Monday, December 8, 2008

BOGOR BANJIR




Ah………. Yang bener? Bogor gitu lho. Kan posisinya di dataran tinggi, masak iya Bogor kebanjiran? Di daerah mana aja?
Pertanyaan seperti ini pasti akan terlontar saat mendengar bahwa kota Bogor kita tercinta ini kebanjiran.
Banjir yang terjadi di bogor memang belum sedashyat yang terjadi di Jakarta atau kota- kota lainnya. Baru sekedar air yang menggenang di mana – mana dan aliran airnya agak deras, tingginya mungkin baru antara semata kaki sampai dengan sebetis orang dewasa.

Ah… yang bener? Di daerah mana ada kondisi seperti itu?
Sebenarnya kita tidak susah untuk mencari lokasi seperti ini. Kondisi ini akan terlihat sejak kita menginjkakkan kaki di kota Bogor kok. Coba saja perhatikan daerah- daerah seperti jalan raya pajajaran, jalan juanda, jalan veteran, jalan suryakencana, jalan sukasari, dan masih banyak jalan lainnya. Atau coba kita perhatikan daerah- daerah perumahan baik perumahan elit maupun perumahan – perumahan tidak elit. Lingkungan perkantoran, kampus dan sekolah pun akan tergenang air seperti ini di kala hujan datang.

Kok bisa ya? Apa sih penyebabnya? Warganya males mungkin atau pemerintahnya tidak becus dalam menata kota?

Wah…… jangan langsung salahkan warga kota dan pemerintah kota dulu deh. Coba sekarang kita lihat sekeliling tempat tinggal kita, apa kita menemui kondisi air menggenang saat hujan? Kalau jawaban yang trucap adalah iya. Sekarang coba tanyakan dalam diri kita apa penyebabnya? Dan siapa yang menyebabkan daerah kita menjadi seperti itu? Apakah warga dari seluruh kota bogor? Apakah kelalaian pemerintah kota dalam menata kota?

Kita pasti akan tersenyum malu……. Wong daerah sendiri kok nyalahin kemana- mana.

Apa sih sebenarnya yang menyebabkan daerah tempat tinggal kita, lingkungan kita beraktivitas dan lingkungan sekitar kita tergenang seperti ini?

Mungkin kita kan menjawab SAMPAH…………….

Kenapa dengan sampah? Bukannya sudah disediakan oleh pemerintah kota beberapa truk pengangkut sampah atau bapak dan ibu yang selalu bertugas mengangkut sampah?

Iya sih, tapi kan mahal bayarnya. Lalu apa yang kita lakukan terhadap sampah – sampah itu? Ya dibuang di selokan saja toh nanti akan terbawa air dalam selokan ke……. Entah kemana deh.

Hehehe ternyata perkiraan kita salah, sampah- sampah itu tidak semuanya pergi kebanyakan dari mereka terjebak di dalam selokan dan mejebakkan selokani tu penuh oleh sampah dan menyebabkan air yang seharusnya mengalir lancar dalam selokan itu menjadi ………………… iiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhh menunpuk dan menimbulkan bau tidak sedap dan pemandangan yang menjijikan. Pastinya akan banyak organisma yang tumbuh berkembang dan menyebarkan beraneka ragam penyakit.

Atau bila lokasinya dekat dengan sungai, mungkin sampah tersebut lebih baik di buang ke sungai. Toh akan mengalir juga menjauh dari kita. Simple banget ya, menjauh dari kita tapi tidak menjauhkan kita dari masalah dan dari bencana banjir.

Ah……….. masak sih kan dah lewat dari pandangan mata kita bahkan sejauh kita memandang lho. Kecuali kalo kita membuangnya jorok. Maksudnya membuang sampah di pinggiran sungai. Tapi saat aliran sungai cukup deras kan sampahnya juga akan terbawa aurs dunk. Atau sejoroknya kita deh sampahnya nyangkut di jembatan deh…….. satu dua sampah saja sudah akan menyebabkan bau tidak sedap kalo seratus dua ratus kantung sampah yang menyangkut, bagaimana? Mungkin nasibnya akan sama dengan sampah yang terjebak di dalam selokan dan menyebarkan banyak penyakit.

Jawaban lain yang mungkin terucap adalah TIDAK ADA SELOKAN di sekitar rumah dan lingkungan kita. KOK BISA? Terus air pembuangan dari limbah rumah tangganya lari kemana dunk?

Hanya senyum aneh lagi yang tercermin di wajah kita.

Kenapa tidak bikin selokan? Kan biaya pembuatannya tidak semahal membeli mobil atau membeli rumah atau membangun rumah?

Iya sih………… tapi…… pas bikin rumah kelupaan bikin selokannya jadi ya udah deh biar aja.


Kondisi ini sangat tidak pantas terjadi di bogor dan di kota manapun. Terutama memang di kota bogor. Kenapa? Bogor punya sebuah institut yang bernuansa lingkungan, institut pertanian. Katanya pula bogor adalah tempatnya LSM, NGO (dan entah apa namanya lagi ) berorientasi pada lingkungan.
Karena buanyak buanget LSM , NGO lingkungan dirintis dan berkembang di kota bogor tercinta.

Terus kemana kita yang katanya cinta lingkungan dan aktivis cinta lingkunga?

Hehehe…….. sibuk urusin illegal logging di Kalimantan dan belahan indonesia lainnya, sibuk dengan ilmu manajemen air di daerah aliran sungai, dan masalah besar lingkungan lainnya. Sementara hal kecil sepertinya kurang mendapat perhatian. Padahal banyak lokasi bermukimnya LSM dan NGO itu sendiri tidak mempunyai selokan yang layak, sampahnya entah sudah teratur dengan rapi atau belum.

Nah lho................ gimana dunk.

Sementara kita berteriak untuk memberikan solusi atau memperotes kondisi yang booming dan cukup besar, tapi kita sendiri lupa dengan kondisi sekitar kita.

Mungkin nda kita coba kita tetap menangani masalah yang besar tapi tidak melupakan yang kecil – kecil yang terjadi di lingkungan kita sendiri, baik di lingkungan tempat tinggal, tempat beraktivitas. Hingga kota kita tercinta ini akan terlihat indah dan terawatt dan jauh dari genangan air yang tidak sepantasnya dan tumpukan sampah serta wabah penyakit yang timbul akibat genangan air dan tumpukan sampah?

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home