KITA DAN ORANG YANG LEBIH MUDA DARI KITA
Bagaimanakah
- cara pandang kita
- sikap kita
- pola pikir kita
- perlakuan kita
- cara kita berbicara
Pernahkah
- kita memperlakukan dia sebagaimana umur dan kapasistasnya?
- Mengajaknya untuk berpikir sebagaimana umur nya?
- Mengajaknya berbicara sebagaimana umurnya?
- Mennghargainya sebagai orang yang pantas untuk dihargai?
Kenapa saya ajukan beebrapa pertanyaan diatas dan mengajukan topic ini dalam blog saya?
Karena saya merasa….. banyak orang- orang yang lebih tua dari kita tidak pernah bisa melihat dan mendengar kita sebagaimana umur kita…………….
Kecenderungan untuk merasa beliau lah yang paling tua dan kita sangat muda or kecil membuat beliau seringkali tidak memberikan kita ‘tempat’ yang pas bagi kita, umur kita , pola pikir kita dan kapasistas kita.
“Ah…… anak kecil tau apa sih”, “ ntar aja taunya kalo kamu udah besar”, “ini urusan orang dewasa dan kamu kan masih kecil…. Nda usah tau dulu deh,” itulah beberapa sikap kita saat berhadapan dengan orang yang lebih muda dari kita.
Tidak jarang pikiran kita pun sering berkata……………. “ kasih yang mudah- mudah aja kan dia masih muda or masih kecil”, “ udah kasih seadanya aja deh ntar diajak mikir yang ruwet dikit malah kotslet lagi,” dan masih banyak lagi pemikiran yang mengdiskreditkan para orang yang lebih muda itu.
Hal ini juga terjadi ketika saya bertugas sebagai salah satu pewawancara dalam seleksi AFS beberapa waktu lalu.
Perbedaan umur yang terbentang antara siswa SMA kelas satu yang akan kami seleksi dengan para pewawancara pastilah sangat terbentang jauh……… maklum sang pewawancara harus berusia minimal 21 tahun. Jadi paling tidak ada minimal 6- 5 tahun perbedaan umur ya………………
Kebetulan saya kebagian 2 sesi wawancara…………. Dan dnegan 2 kelompok yang berbeda jadi setidaknya saya bisa sangat menganalisa pertanyaan dan perlakuan yang diberikan oleh para orang dewasa itu kepada adek2 SMA.
Di kelompok yang pertama, yang terdiri dari 2 orang ibu esmud berusisa 40an dan saya sendiri berusia 35 tahun……
Mungkin karena system pola asuh mandiri yang diberika oleh 2 ibu tersebut……. Maka ibu – ibu itupun sangat menghargai siswa SMA yang kami wawncarain……
- setidaknya kami tidak akan mengajukan pertanyaan lebih banyak apapbila kami tidak menemukan sisi menarik dari siswa tersebut.
- Kamipun memberikan pertanyaa terbuka yang memungkinkan kami untuk bisa menganalisanya secara leluasa…… ( kami memndapat tugas untuk menilai sisi kualitas pribadi, prestasi dan visi, empati, dan sisi kepedulian nasional dan internasional).
Jadi kami tidak akan meberikan poin pe poin kepada sang siswa. Menueurt kami dengan kami mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan pertanyaan lewat celah penjabaran siswa tersebut, akan lebih efektif dan efisien.
Di kelompok ke dua yang bersama seorang ibu dan seorang esmud mungkin uisanya sekitar 28 tahun……..
Di kelompok pewawancara ini , saya merasa pertanyaan yang diajukan sangat childist sekali. Dan tidak menghargai siswa tersebut anak SMA yang open mind dan berwawasan luas………
Kenapa? Karena pertanyan yang diajukan mempunyai jangkauan yangs anagt pendek dan tipis.
Contohnya :
- empati hanya dihubungkan dengan kemiskinan……………. Padahal emapati kan sangat luas…. Bagaimana dai berempati dengan keluarganya, dengan teman2nya, dengan lingkungan sekitarnya.
- Penilaian wawasan internasional dan nasional hanya didasarkan pertanyaan pada berita nasional dan internasional yang siswa baca via surat kabar. Bagaimana bisa menemukan sisi nasionalisme kalo seperti ini? seolah anak SMA bukan anak yang cerdas deh…… yang tau teknologi dan sejenisnya.
Yang bikin saya miris adalah cara beliau2 mengajukan pertanyaan dan menatap siswa2 SMA itu seperti menatap seorang anak kecil berumur mungkin paling tua 8 tahun deh. Rasanya tidak ada tatapan ‘menghargai’ nya sebagai seorang anak berusia 15 – 16 tahun.
Hal itu tidak hanya dilakukan oelh para pewawancara yang berusia 30 tahun ke atas……. Tapi juga pada pewawancara muda yang berusia 23 tahunan deh.
Kondisi ini memang bukan kali pertama saya mendapati nya……………….
Dalam keluarga pun kita pasti banyak mengalami hal ini…… meski umur kita sudah beranjak 25 tahun tapi dimata orang tua kita, kita tetap lah seorang anak kecil ……. Jarang sekali kita di’akui’ sebagai seorang yang sduah dewasa.
Di lingkungan tempat kerja dan dalam pergaulan kita dengan teman2 juga seringkali terjadi hal ini kan?
Kenapa sulit sekali kita menghargai dan menerima serta memperlakukan orang itu sesuai dengan umurnya………
Sesuatu yang kontras banyak terjadi pada kita, orang yang lebih muda dan orang2 yang lebih tua……..
Orang yang lebih tua cenderung selalu merasa tua dan tua maka kadang meski umurnya masih terbilang muda tapi selalu merasa jauh lebih tua dari umurnya.
Andai orang yang tua bisa menghargai orang yang lebih muda pastinya orang yang muda juga akan menghargai orang2 yang lebih tua…………..
Semoga deh…………………….

2 Comments:
Tulisannya dalem euy. Nggak sengaja mampir gara2 lagi googling afs. Coba semua interviewer punya pemikiran kayak idi yang nulis ini...alangkah wise-nya..he..he.. Btw salam kenal, saya wulan.
hehehe tengkyu dah mampir ya wulan.
waduh pujiannya tinggi bener dibilang wise lagi :)
idi mampir ke blog wulan juga ah :)
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home